Tampilkan postingan dengan label Koleksi Patung Outdoor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Koleksi Patung Outdoor. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Februari 2018

Patung Residen Sudirman

PATUNG RESIDEN SUDIRMAN


Residen Sudirman dengan beberapa pejabat, di antaranya walikota Surabaya waktu itu, Radjamin Nasution dan Cak Ruslan (Roeslan Abdulgani, tokoh pemuda waktu itu), bersama beberapa wartawan, termasuk saya dan Sutomo (Bung Tomo), kata Wiwiek Hidayat, segera mendatangi hotel Yamato. Kepada perwakilan Sekutu yang ada di sana, Pak Dirman – panggilan akrab Residen Soedirman – minta  agar bendera Belanda itu diturunkan. Saat rombongan Residen Sudirman masuk ke halaman hotel, di sepanjang Jalan Tunjungan, massa sudah ramai.

Kepada perwakilan Sekutu itu dikatakan bahwa Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945.  Namun, pihak sekutu menolak menurunkan bendera Belanda itu. Mereka menjawab, dalam Perang Dunia II itu yang menang adalah Sekutu, di dalamnya termasuk Belanda, sehingga tidak ada alasan untuk menurunkan bendera Belanda itu.

Ploegman Tewas

Rupanya perwakilan Sekutu itu adalah orang Belanda, bahkan dengan sombongnya ia mengacungkan pistol ke arah Pak Dirman. Saat itu, kata Wiwiek, seorang pemuda menendang pistol yang diacungkan pria kulit putih itu. Terjadi perkelahian dan saling keroyok antara bule-bule dengan pemuda yang datang menyerbu masuk ke halaman hotel. Tauran (perkelahian massal) tak dapat dihindarkan. Apa saja yang ada saat itu dipergunakan jadi senjata. Ada kayu, batu, botol minuman dan ada seorang polisi menggunakan pedang. Ada yang mengangkat sepeda dan dilemparkan ke tengah massa.

Suasana hirukpikuk ini tambah seru, tatkala massa berdatangan dari arah utara dan selatan. Ada yang naik truk dan juga ada yang dengan trem. Yang naik trem listrik itu adalah orang hukuman yang dilepaskan dari penjara oleh Pemuda DKA (Djawatan Kereta Api – sekarang PT.KAI atau Kereta Api Indonesia). Massa menyerbu masuk sampai ke dalam hotel. Sementara itu di luar beberapa orang membawa tangga dan naik ke atas gedung. Dengan tangga kayu (ondo) itu, berjuang memanjat ke atas, hingga akhirnya bendera Belanda itupun diturunkan, namun sertamerta warna biru dari bendera itu dirobek, lalu dwiwarna yang tersisa kembali menjulang di angkasa. Kain warna biru digulung dan dilemparkan ke bawah. Teriakan “Merdeka…!, merdeka! sembari mengepalkan tangan saling bersahutan.

Patung H.R Mohamad

PATUNG H.R MOHAMAD

Nama              : HR. Mohamad Mangoendiprodjo
Lahir                : Sragen, 5 Januari 1905
Wafat              : Bandar Lampung, 13 Desember 1988
Peran               : Pejuang kemerdekaan perwira militer, komandan BKR / TKR Jawa Timur
Keterangan     : Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 7 November 2014

Surabaya pada 25 Oktober 1945 menjadi operasi militer terbesar pertamanya. Mangundiprojo bersama Bung Tomo, Doel Arnowo, Abdul Wahab dan Drg Moestopo, memimpin perlawanan terhadap pasukan Sekutu yang berlangsung di seluruh penjuru Surabaya. Hingga tanggal 29 Oktober 1945, pimpinan Sekutu mengadakan pertemuan dengan Bung Hatta untuk melakukan gencatan senjata. Pada pertemuan tersebut, Muhammad Mangundiprojo diangkat oleh Jenderal Oerip Soemohardjo sebagai pimpinan TKR Divisi Jawa Timur dan melakukan kontak biro dengan pasukan Sekutu. Pada hari yang sama, 29 Oktober 1945 di sore hari, Muhammad bersama Brigadir Mallaby berpatroli keliling kota Surabayauntuk melihat kemajuan gencatan senjata. Rombongan ini berhenti di Jembatan Merah di depan Gedung Internatio. Di dalam gedung itu, tentara Inggris dari kesatuan Gurkha sedang dikepung oleh pemuda-pemuda Indonesia untuk diminta menyerah. Muhammad lantas masuk ke dalam gedung yang dikuasai Inggris untuk melakukan negosiasi. Tanpa disangka, Muhammad malah disandera oleh tentara Gurkha dan terjadilah tembak-menembak antara tentara Inggris dan pemuda Surabaya. Mallaby tewas dalam mobilnya yang meledak dan terbakar. Tewasnya Mallaby membuat Inggris marah. Inggris mengultimatum rakyat Surabaya yang mempunyai senjata untuk menyerahkan senjatanya. Ultimatum ini spontan ditolak oleh Muhammad yang kemudian memimpin TKR dan pemuda Surabaya melakukan pertempuran yang berpuncak pada tanggal 10 November 1945. Perang terbuka di Surabaya ini berlangsung selama 22 hari dan menewaskan 6.315 pejuang anggota TKR. Muhammad sendiri bertugas memimpin pertempuran melawan tentara Sekutu. Setelah Pertempuran Surabaya usai, Muhammad Mangundiprojo dipromosikan menjadi Mayor Jenderal oleh Presiden Soekarno.


- Masa kecil R. Moehammad bersama orangtuanya di Sragen Jawa Tengah ( berasal dari  Keluarga Bangsawan keturunan Sultan Demak dan Prabu Brawijaya . Cicit dari Setjodiwirjo (kyai Ngali Muntoha)

- Disekolahkan oleh Pamannya di Pondok Pesantren.

- Menerima ijazah tamat dari OSVIA pada tahun 1927.

- Bertugas di Surabaya, menjadi wakil kepala jaksa di Kalisosok.

 


                                             

- Masa pendudukan Jepang, Moehammad masuk PETA dan jadi Dan Yon pada tahun 1944.

- Situasi terjadinya pertempuran Surabaya fase pertama pada bulan oktober, dimana Tentara Sekutu Inggris yang dipimpin oleh Brigjeng AWS. Mallaby dengan kekuatan 6000 pasukan, kalah dalam dalam pertempuran ini.

- Saat kedatangan presiden dan wapres RI di Sby, ia diangkat jadi pimpinan Tentara Keamanan Rakyat (BKR) Jatim.

- Selaku anggota kontak biro, berkeliling kota Surabaya pada tanggal 30 Oktober 1945 untuk meredakan suasana.


                                     

- Saat iring2an tiba di Jembatan Merah, dihadang massa yang protes kepada delegasi Sekutu ( Brigader Mallaby)

- Moehammad dan Kundan masuk gedung Internatio untuk negosiasi dengan perwira Inggris.

-Komandan TKR  R. Moehammad mengendalikan pasukannya pada peristiwa pertempuran 10 Nopember 1945.


                                     

- Pasca Revolusi Kemerdekaan, R. Moehammad menjadi bupati Ponorogo (1951-1955)

- HR Muhamad menjadi residen Gubernur pertama di Lampung.

- HR. Muhamad Menjadi anggota DPR (1971


Patung Bung Tomo

PATUNG BUNG TOMO

Nama              : Sutomo
Lahir               : Surabaya 3 Oktober 1920
Wafat              : Padang Arafah, 7 Oktober 1981
Peran              : Ketua BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia)
Keterangan    : Kepres no. 041 / TK / 2008 / 6 November 2008

Bung Tomo lahir pada 3 Oktober 1920 di Surabaya, Jawa Timur. Sutomo lebih dikenal dengan nama Bung Tomo oleh rakyat. Bung Tomo dibesarkan dalam keluarga kelas menengah, dan juga keluarga yang sangat menghargai dan menjunjung tinggi pendidikan. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Bung Tomo mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro. Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Bung Tomo memiliki minat pada dunia jurnalisme. Ia pernah bekerja sebagai wartawan lepas pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya pada tahun 1937. Setahun kemudian, ia menjadi Redaktur Mingguan Pembela Rakyat serta menjadi wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa, Ekspres, di Surabaya pada tahun 1939. Pada masa pendudukan Jepang, Bung Tomo bekerja di kantor berita tentara pendudukan Jepang, Domei, bagian Bahasa Indonesia untuk seluruh Jawa Timur di Surabaya pada tahun 1942-1945. Saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan, beliau memberitakannya dalam bahasa Jawa bersama wartawan senior Romo Bintarti untuk menghindari sensor Jepang. Selanjutnya, beliau menjadi Pemimpin Redaksi Kantor Berita Antara di Surabaya. Pertempuran di Surabaya, 10 November 1945, Bung Tomo tampil sebagai orator ulung di depan corong radio, membakar semangat rakyat untuk berjuang melawan tentara Inggris dan NICA-Belanda
.


- Soetomo kecil tinggal di kampung Blauran bersama kedua orangtua nya, Ayahnya Kartawan Tjiptowidjojo dan ibunya Subastita.

- Soetomo sering berbincang dan belajar persoalan bangsa dari sang kakek.

- Masa remaja bergabung di Kepanduan.

- Pernah bekerja di sejumlah surat kabar dan juga menjadi wartawan, salah satunya diKantor Berita Domai


- Berunding dengan Perwira Jepang di tangsi Don Bosco.

- Berpidato di corong Radio Pemberontakan, bersama K'tut Tantri.

- Terjadinya pertempuran 10 November di Surabaya.



- Bung Tomo masih terus mengobarkan semangat juang melalui pidatonya baik melalui radio maupun ruang terbuka.

- Menjadi menteri negara urusan veteran, merangkap menteri sosial (Agustus 1955-Maret 1956).

- Menjadi anggota DPR RI dari Partai Rakyat Indonesia (PRI) (1956-1959)

- Menunaikan ibadah haji dan wafat di Arafah-Mekkah 7 Oktober 1981


Patung Doel Arnowo

PATUNG DOEL ARNOWO

Nama      : Abdoel Adhiem / Doel Arnowo
Lahir      : Surabaya, 30 Oktober 1904
Wafat      : Surabaya 18 Januari 1985
Peran      : Walikota Surabaya tahun 1950, Ketua KNI, Pembantu Utama Gubernur Suryo
Keterangan
Peran Doel Arnowo dalam pertempuran 10 November cukup vital, baik secara langsung menghadapi Inggris dan sekutunya, maupun saat perundingan. Dalam pertempuran ini, Doel Arnowo bertugas sebagai penghubung Surabaya dengan pihak Jakarta. Sebab, Menteri LuarNegeri RI saat itu, Ahmad Soebardjo, adalah teman akrab Doel. Ketika Surabaya sudah bersepakat menolak ultimatum Inggris pada 9 November 1945, Doel diamanati melapor ke pusat. Jawaban dari Jakarta awalnya adalah “menunggu”, yang pada akhirnya dijawab “Terserah Surabaya!”. Dan pada saat itulah Doel Arnowo bersama Soemarsono( Pimpinan Pemuda Rakyat Indonesia ) berjuang bersama mempertahankan kota Surabaya dengan semboyan, “ MerdekaatauMati!”


- Doel Arnowo Nama asli Abdoel Adhiem) lahir tanggal 30 Oktober 1904 sampai remaja di kampung Gentengkali Surabaya bersama keua orangtuanya Ayah Arnowo dan ibu Djahminah.

- Bekerja di Kantor Pos Surabaya (1921-1933)

- Menjadi aktifis politik di Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1927.

- Ditangkap Belanda dan masuk penjara (17 April 1934-Juni 1935)karena kritis ke Pemerintah Belanda

  melalui karya-karya tulisannya salah satunya yang berjudul “Kamoes Marhaen”



 - Pada masa pemerintah Jepang diangkat sebagai pegawai kantor propaganda Jepang.

 - Menjadi anggota dewan penasehat pemerintahan kota.

 - Mendapat tugas mengorganisir pemuda2 yang masuk PETA di seluruh Jatim.

 - awal kemerdekaan, aktif mengawal pembentukan pemerintahan sipil di Surabaya.

 - cak Doel memimpin gerakan memperbanyak dan menyebarluaskan berita proklamasi.



- Doel Arnowo dalam sidang KNI 25-27 Agustus 1945, dimana ia sebagai ketua KNI Karesidenan Surabaya.

-  Cak Doel menyerukan gerakan pengibaran merah putih di seluruh penjuru kotaSurabaya berturut - turut mulai tanggal 29 sampai 31 Agustus 1945.

-  Melalui sidang KNI diputuskan untuk membentuk Badan Keamann Rakyat (BKR) dan Badan Penolong Korban Perang (BPKP) pada tanggal 2 September 1945.

-  Cak Doel mengumpulkan dan meminta para ex perwira PETA untuk menghimpun lagi bekas anak Buahnya.



- Setelah pertempuran Surabaya fase 1 ( Oktober) Doel Arnowo sebagai angota kontak biro ikut terlibat Perundingan dengan pihak Sekutu.

- Meletus insiden  di jembatan merah yang menewaskan brigader Mallaby, cak Doel berlindung di tebing sungai.

-  Setelah masa revolusi, ia dipilih menjadi Walikota Surabaya ( 1950-1952)

-  Doel Arnowo memimpin awal Pembangunan Tugu Pahlawan. Kemudian dilanjutkan oleh Walikota Surabaya berikutnya R. Mustajab.

-  Doel Arnowo bertugas di Depdagri, Jakarta.





Jumat, 09 Februari 2018

Patung Gubernur Soerjo

PATUNG GUBERNUR SOERJO

Nama              : Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo
Lahir                : Magetan, 9 Juli 1898
Wafat              : Ngawi, 10 September 1948
Peran              : Gubernur pertama Jawa Timur 18 Agustus 1945, tanggal 9 november 1945 berpidato untuk membakar semangat rakyat Surabaya.
RM Suryo membuat perjanjian gencatan senjata dengan komandan pasukan Inggris Brigadir Jenderal Mallaby di Surabaya pada tanggal 26 Oktober 1945. Namun tetap saja meletus pertempuran tiga hari di Surabaya 28-30 Oktober yang membuat Inggris terdesak. Presiden Sukarno memutuskan datang ke Surabaya untuk mendamaikan kedua pihak. Gencatan senjata yang disepakati tidak diketahui sepebuhnya oleh para pejuang pribumi. Tetap saja terjadi kontak senjata yang menewaskan Mallaby. Hal ini menyulut kemarahan pasukan Inggris. Komandan pasukan yang bernama Jenderal Mansergh mengultimatum rakyat Surabaya supaya menyerahkan semua senjata paling tanggal 9 November 1945, atau keesokan harinya Surabaya akan dihancurkan. Menanggapi ultimatum tersebut, Presiden Sukarno menyerahkan sepenuhnya keputusan di tangan pemerintah Jawa Timur, yaitu menolak atau menyerah. Gubernur Suryo dengan tegas berpidato di RRI bahwa Arek-Arek Suroboyo akan melawan ultimatum Inggris sampai darah penghabisan.

                                       
 
- Raden Mas Tumenggung(R.A.T) Ario Soerjo (Gubernur Soerjo) remaja bersama kedua Orangtuanya R.M. Wiryosumarto (Ajun Jaksa Magetan) dan R.A. Kustiah.
- Menjadi veldpolitie (Mantri Polisi) di Madiun.
- Mengikuti pendidikan polisi di Sukabumi.
- Menjadi asisten wedana di sejumlah tempat.

- Menempuh pendidikan di bestoor school – Hoofden School (OSVIA) (Sekarang IPDN), Jakarta 

- Saat  menjadi bupati di Magetan ( 1938-1943)

- Diangkat sebagai Su Cho Kan (Residen) di Bojonegoro dimasa pendudukan jepang.

- Setelah proklamasi diangkat sebagai gubernur Jatim.



- Reaksi Gubernur Soerjomelakukan penolakan terhadap selebaran ultimatum Sekutu 9 Nopember 1945

- Pidato resmi Gubernur di RRI, menolak ultimatum ancaman dari Tentara Inggris.

- Pecah pertempuran 10 November 1945.

- Gubernur Soerjo menjalankan pemerintahan darurat berpindah2 di luar kota Surabaya.



- Menjadi ketua DPA

- Peristiwa pemberontakan dan penumpasan PKI di Madiun dan sekitarnya 1948.

- Penghadangan oleh gerombolan PKI terhadap Soerjo dan KomBes polisi M. Doerjat dan Komisaris Polisi Suroko di Dukuh Ngandu, Desa Bangunrejo, Kedunggalar-Ngawi dan dimakamkan di Sawahan, Desa Kepolorejo, Magetan.